Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur panjang yang sangat penting dalam pembelajaran fisika, khususnya pada materi pengukuran. Alat ini memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan mistar, sehingga mampu digunakan untuk mengukur berbagai dimensi benda seperti panjang, ketebalan, diameter luar, diameter dalam, hingga kedalaman lubang. Pemahaman terhadap jangka sorong tidak hanya mencakup cara membaca skala, tetapi juga konsep ketelitian dan ketidakpastian hasil ukur yang sering muncul dalam contoh soal jangka sorong.
Melalui berbagai contoh soal jangka sorong yang disajikan, peserta didik diajak untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Soal-soal tersebut tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga menekankan pemahaman konsep, analisis kesalahan pengukuran, serta penerapan jangka sorong dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembahasan yang disusun secara sistematis dan mudah dipahami, diharapkan Anda dapat menguasai materi jangka sorong secara lebih menyeluruh.
Kisi-Kisi Contoh Soal Jangka Sorong Terbaru

Kisi-kisi contoh soal jangka sorong disusun untuk membantu Anda memahami ruang lingkup materi pengukuran yang akan dipelajari. Melalui kisi-kisi ini, Anda dapat mengetahui kompetensi yang dibutuhkan, mulai dari pengenalan jangka sorong hingga keterampilan membaca hasil ukur secara teliti. Kisi-kisi ini dapat digunakan sebagai panduan belajar agar latihan soal lebih terarah dan efektif.
1. Pengertian Jangka Sorong
Peserta didik memahami pengertian jangka sorong sebagai alat ukur panjang yang memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi dibandingkan mistar. Soal menekankan pada konsep dasar dan peran jangka sorong dalam pengukuran fisika.
2. Fungsi Jangka Sorong
Peserta didik mampu menjelaskan fungsi jangka sorong dalam mengukur berbagai dimensi benda. Pengukuran meliputi panjang, ketebalan, diameter luar, diameter dalam, dan kedalaman.
3. Bagian-Bagian Jangka Sorong
Peserta didik mampu mengenali dan menyebutkan bagian-bagian jangka sorong beserta fungsinya. Bagian yang diuji meliputi rahang luar, rahang dalam, skala utama, skala nonius, batang pengukur kedalaman, dan pengunci.
4. Skala Utama dan Skala Nonius
Peserta didik memahami perbedaan antara skala utama dan skala nonius pada jangka sorong. Soal menekankan pada fungsi masing-masing skala dalam menentukan hasil pengukuran.
5. Ketelitian Jangka Sorong
Peserta didik mampu menentukan ketelitian atau nilai skala terkecil jangka sorong. Ketelitian yang diuji umumnya 0,1 mm, 0,05 mm, atau 0,02 mm sesuai dengan jenis jangka sorong.
6. Cara Membaca Hasil Pengukuran
Peserta didik mampu membaca hasil pengukuran jangka sorong dengan langkah yang benar. Soal mencakup penentuan skala utama, penentuan skala nonius yang tepat, serta penjumlahan kedua skala tersebut.
7. Perhitungan Hasil Ukur
Peserta didik mampu menghitung hasil pengukuran dalam satuan yang sesuai dan menuliskannya dengan benar. Soal dapat berupa perhitungan sederhana hingga melibatkan angka desimal.
8. Pengukuran Diameter Luar dan Dalam
Peserta didik mampu menentukan hasil pengukuran diameter luar dan diameter dalam suatu benda dengan memilih bagian jangka sorong yang tepat sesuai jenis pengukuran.
9. Pengukuran Kedalaman
Peserta didik memahami penggunaan batang pengukur kedalaman pada jangka sorong untuk mengukur kedalaman lubang atau cekungan.
10. Kesalahan dan Ketidakpastian Pengukuran
Peserta didik mampu mengidentifikasi kesalahan dalam pengukuran, seperti kesalahan paralaks dan kesalahan pembacaan skala. Peserta juga mampu menuliskan hasil ukur beserta ketidakpastiannya secara sederhana.
11. Penerapan Jangka Sorong dalam Kehidupan Sehari-hari
Peserta didik mampu mengaitkan penggunaan jangka sorong dengan situasi nyata, seperti pengukuran komponen teknik, benda laboratorium, atau alat bengkel, serta memahami pentingnya ketelitian alat ukur.
Contoh Soal Jangka Sorong Lengkap Dengan Pembahasannya
Contoh soal berikut disajikan sebagai gambaran bentuk evaluasi yang digunakan dalam proses pembelajaran dan penilaian. Melalui latihan ini, Anda dapat melihat bagaimana kemampuan penalaran, pemahaman konsep, serta ketelitian dalam membaca hasil ukur diuji secara sistematis melalui soal jangka sorong.
Soal 1
Perbedaan utama antara mistar dan jangka sorong dalam pengukuran panjang adalah …
A. Jangka sorong hanya dapat mengukur benda yang kecil
B. Mistar lebih akurat karena tidak memiliki skala nonius
C. Jangka sorong memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi dibandingkan mistar
D. Jangka sorong hanya digunakan di laboratorium
E. Mistar dapat mengukur diameter dalam benda
Jawaban: C
Pembahasan: Jangka sorong memiliki skala utama dan skala nonius yang memungkinkan pembacaan hasil ukur dengan ketelitian lebih tinggi dibandingkan mistar. Mistar umumnya memiliki ketelitian 1 mm, sedangkan jangka sorong dapat mencapai 0,1 mm atau lebih kecil.
Soal 2
Seorang siswa ingin mengukur diameter bagian dalam sebuah cincin logam. Bagian jangka sorong yang tepat untuk digunakan adalah …
A. Rahang luar
B. Skala utama
C. Batang pengukur kedalaman
D. Rahang dalam
E. Pengunci
Jawaban: D
Pembahasan: Rahang dalam digunakan untuk mengukur diameter bagian dalam benda seperti cincin atau pipa. Rahang luar digunakan untuk ukuran luar, sedangkan batang kedalaman khusus untuk mengukur kedalaman lubang.
Soal 3
Hasil pengukuran jangka sorong diperoleh dengan cara …
A. Mengurangkan skala utama dengan skala nonius
B. Mengalikan skala utama dengan ketelitian
C. Menjumlahkan nilai skala utama dan skala nonius
D. Membaca skala nonius saja
E. Mengalikan skala nonius dengan skala utama
Jawaban: C
Pembahasan: Cara membaca jangka sorong yang benar adalah dengan menentukan nilai skala utama terlebih dahulu, kemudian menambahkan nilai skala nonius yang berimpit. Jumlah kedua skala tersebut merupakan hasil pengukuran akhir.
Soal 4
Sebuah jangka sorong memiliki ketelitian 0,05 mm. Pernyataan yang benar mengenai ketelitian tersebut adalah …
A. Jangka sorong hanya dapat mengukur satuan cm
B. Skala utama memiliki jarak 0,05 mm
C. Nilai terkecil yang dapat diukur adalah 0,05 mm
D. Skala nonius tidak berpengaruh pada hasil ukur
E. Ketelitian sama dengan panjang rahang
Jawaban: C
Pembahasan: Ketelitian menunjukkan nilai skala terkecil yang dapat dibaca oleh alat ukur. Ketelitian 0,05 mm berarti jangka sorong mampu membedakan perubahan ukuran sekecil 0,05 mm.
Soal 5
Dalam penggunaan jangka sorong, hasil pengukuran terbaca lebih besar dari nilai sebenarnya karena posisi mata tidak sejajar dengan skala. Kesalahan ini disebut …
A. Kesalahan sistematis
B. Kesalahan alat
C. Kesalahan satuan
D. Kesalahan acak
E. Kesalahan paralaks
Jawaban: E
Pembahasan: Kesalahan paralaks terjadi ketika posisi mata pengamat tidak sejajar dengan skala saat membaca hasil pengukuran. Hal ini menyebabkan nilai yang terbaca bisa lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya.
Soal 6
Skala utama jangka sorong menunjukkan angka 24 mm. Skala nonius yang berimpit adalah garis ke-6 dengan ketelitian 0,1 mm. Hasil pengukuran benda tersebut adalah …
A. 24,0 mm
B. 25,0 mm
C. 26,0 mm
D. 24,6 mm
E. 30,0 mm
Jawaban: D
Pembahasan: Skala utama = 24 mm
Skala nonius = 6 × 0,1 mm = 0,6 mm
Hasil pengukuran = 24 + 0,6 = 24,6 mm
Soal 7
Fungsi utama skala nonius pada jangka sorong adalah untuk …
A. Menentukan nilai pecahan dari skala utama
B. Mengunci posisi rahang
C. Mengukur kedalaman lubang
D. Menunjukkan satuan cm
E. Menahan benda agar tidak bergerak
Jawaban: A
Pembahasan: Skala nonius berfungsi untuk membaca nilai pecahan dari skala utama sehingga hasil pengukuran menjadi lebih teliti dibandingkan jika hanya menggunakan skala utama saja.
Soal 8
Bagian jangka sorong yang digunakan untuk mengukur ketebalan sebuah pelat logam adalah …
A. Rahang dalam
B. Batang pengukur kedalaman
C. Rahang luar
D. Skala utama
E. Pengunci
Jawaban: C
Pembahasan: Rahang luar digunakan untuk mengukur ukuran luar suatu benda, termasuk panjang, diameter luar, dan ketebalan pelat logam.
Soal 9
Sebuah jangka sorong memiliki ketelitian 0,02 mm. Artinya, jangka sorong tersebut mampu …
A. Mengukur panjang maksimal 0,02 mm
B. Mengukur benda tanpa kesalahan
C. Menunjukkan satuan hingga cm
D. Mengukur perubahan ukuran terkecil sebesar 0,02 mm
E. Mengganti fungsi mikrometer sekrup
Jawaban: D
Pembahasan: Ketelitian 0,02 mm berarti perubahan ukuran paling kecil yang masih dapat dibaca oleh jangka sorong adalah sebesar 0,02 mm.
Soal 10
Kesalahan pembacaan skala jangka sorong yang terjadi karena posisi mata pengamat tidak sejajar dengan skala disebut …
A. Kesalahan acak
B. Kesalahan paralaks
C. Kesalahan sistematis
D. Kesalahan alat
E. Kesalahan nol
Jawaban: B
Pembahasan: Kesalahan paralaks terjadi akibat posisi mata yang tidak sejajar dengan skala saat pembacaan, sehingga hasil ukur menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya.
Soal 11
Batang pengukur kedalaman pada jangka sorong digunakan untuk mengukur …
A. Diameter luar benda
B. Ketebalan pelat
C. Kedalaman lubang atau cekungan
D. Diameter dalam pipa
E. Panjang benda
Jawaban: C
Pembahasan: Batang pengukur kedalaman digunakan khusus untuk mengukur kedalaman lubang atau cekungan yang tidak dapat diukur menggunakan rahang jangka sorong.
Soal 12
Jika hasil pengukuran jangka sorong dituliskan sebagai (32,40 ± 0,05) mm, maka angka 0,05 mm menunjukkan …
A. Skala utama
B. Skala nonius
C. Panjang benda sebenarnya
D. Ketelitian alat ukur
E. Kesalahan paralaks
Jawaban: D
Pembahasan: Nilai ± 0,05 mm menunjukkan ketidakpastian atau ketelitian alat ukur yang digunakan dalam pengukuran tersebut.
Soal 13
Untuk mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa kecil menggunakan jangka sorong, langkah yang paling tepat adalah …
A. Menggunakan rahang luar dan membaca skala utama
B. Menggunakan batang pengukur kedalaman
C. Menggunakan rahang dalam lalu membaca skala utama dan nonius
D. Mengunci jangka sorong sebelum pengukuraE. Menggunakan mistar
Jawaban: C
Pembahasan: Diameter dalam diukur menggunakan rahang dalam. Setelah rahang menyentuh sisi bagian dalam pipa, hasil pengukuran dibaca dari skala utama dan skala nonius.
Soal 14
Hasil pengukuran jangka sorong menunjukkan skala utama 15 mm dan skala nonius 0,3 mm. Maka hasil pengukuran tersebut adalah …
A. 15,03 mm
B. 18,0 mm
C. 30,0 mm
D. 15,0 mm
E. 15,3 mm
Jawaban: E
Pembahasan: Hasil pengukuran jangka sorong diperoleh dengan menjumlahkan skala utama dan skala nonius:
15 mm + 0,3 mm = 15,3 mm
Soal 15
Penggunaan jangka sorong dalam bidang teknik dan bengkel sangat penting karena …
A. Lebih murah dibandingkan alat ukur lain
B. Mudah dibawa ke mana-mana
C. Tidak memerlukan keterampilan membaca skala
D. Memiliki tingkat ketelitian yang tinggi
E. Hanya digunakan untuk benda kecil
Jawaban: D
Pembahasan: Dalam bidang teknik dan bengkel, ketelitian sangat dibutuhkan agar ukuran komponen sesuai standar. Jangka sorong dipilih karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dibandingkan mistar.
Soal 16
Seorang siswa mengukur diameter luar sebuah kelereng menggunakan jangka sorong. Skala utama menunjukkan 18 mm dan skala nonius yang berimpit adalah garis ke-4. Ketelitian jangka sorong tersebut adalah 0,05 mm. Hasil pengukuran kelereng adalah …
A. 18,0 mm
B. 18,4 mm
C. 18,2 mm
D. 18,5 mm
E. 20,0 mm
Jawaban: C
Pembahasan: Skala utama = 18 mm
Skala nonius = 4 × 0,05 mm = 0,20 mm
Hasil pengukuran = 18 + 0,20 = 18,2 mm
Soal 17
Bagian jangka sorong yang berfungsi untuk mengunci posisi rahang agar tidak bergeser saat pembacaan hasil ukur adalah …
A. Skala utama
B. Rahang dalam
C. Rahang luar
D. Pengunci
E. Batang pengukur kedalaman
Jawaban: D
Pembahasan: Pengunci digunakan untuk menahan posisi rahang jangka sorong agar tidak berubah saat hasil pengukuran dibaca, sehingga pembacaan menjadi lebih akurat.
Soal 18
Perbedaan fungsi antara rahang luar dan rahang dalam pada jangka sorong yang benar adalah …
A. Rahang luar untuk diameter dalam, rahang dalam untuk diameter luar
B. Rahang luar untuk kedalaman, rahang dalam untuk panjang
C. Rahang luar untuk ukuran luar benda, rahang dalam untuk ukuran bagian dalam
D. Rahang luar untuk membaca skala, rahang dalam untuk mengunci
E. Rahang luar dan rahang dalam memiliki fungsi yang sama
Jawaban: C
Pembahasan: Rahang luar digunakan untuk mengukur ukuran luar benda seperti panjang, ketebalan, dan diameter luar. Rahang dalam digunakan untuk mengukur diameter bagian dalam benda seperti pipa atau lubang.
Soal 19
Sebuah jangka sorong memiliki ketelitian 0,1 mm. Jika hasil pengukuran dituliskan secara sederhana, maka ketidakpastian pengukurannya adalah …
A. ± 0,01 mm
B. ± 1 mm
C. ± 0,5 mm
D. ± 2 mm
E. ± 0,1 mm
Jawaban: E
Pembahasan: Dalam penulisan hasil pengukuran sederhana, ketidakpastian umumnya diambil sebesar ketelitian alat ukur. Dengan ketelitian 0,1 mm, ketidakpastian pengukuran adalah ± 0,1 mm.
Soal 20
Seorang teknisi bengkel mengukur kedalaman lubang baut menggunakan jangka sorong. Alasan utama penggunaan jangka sorong dibandingkan mistar pada kasus tersebut adalah …
A. Jangka sorong lebih ringan
B. Jangka sorong memiliki batang pengukur kedalaman dan ketelitian tinggi
C. Mistar tidak memiliki satuan
D. Jangka sorong lebih murah
E. Mistar tidak dapat mengukur panjang
Jawaban: B
Pembahasan: Jangka sorong dilengkapi batang pengukur kedalaman yang dirancang khusus untuk mengukur kedalaman lubang. Selain itu, tingkat ketelitiannya lebih tinggi dibandingkan mistar sehingga hasil pengukuran lebih akurat.
Sudah sejauh mana pemahaman Anda tentang pengukuran menggunakan jangka sorong?

Uji kemampuan Anda melalui latihan contoh soal jangka sorong yang dirancang untuk melatih ketelitian, pemahaman konsep, dan kemampuan analisis. Soal-soal ini disusun sesuai materi pengukuran fisika, mencakup cara membaca skala, menentukan ketelitian, hingga penerapan jangka sorong dalam kehidupan sehari-hari. Kumpulan latihan beserta pembahasannya dapat diakses secara lengkap melalui utbk.or.id sebagai pendamping belajar yang praktis dan terarah.